Thursday, 12 December 2019

12 December 2019




Bacaan ku hari ini. Dan setelah membaca baru ada terasa Pembangunan Diri.

Bacaan ku langsung lewat perangkat Computer. Tinta printer ku habis belum dibeli.





Maksud Code of Conduct


Apa yang dimaksud dengan code of conduct dan mengapa harus ada code of conduct? Code of conduct sesungguhnya bukanlah sebuah produk hukum, sehingga siapapun diperbolehkan membuatnya. Code of conduct yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kode etik atau pedoman perilaku adalah beberapa aturan yang dibuat, dipahami dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama.

Codeof conduct dapat disebut sebagai hukum etika dan berposisi justru di atas hukum positif. Hukum etika tersebut dapat bermacam-macam disesuaikan dengan ruang lingkup dan kondisi yang berlaku, sebagai contoh, ada code of conduct dalam perusahaan, code of conduct rumah sakit, code of conduct lembaga pendidikan,dan sebagainya. Jadi, code of conduct yang dimaksud tidak berlaku umum hanya untuk kalangan tertentu saja (sehingga bukan hukum positif).

Meski “bunyi” peraturan bisa berbeda-beda, namun secara umum berkait soal perilaku. Bagaimana perilaku yang sebaiknya, bagaimana agar tidak terjadi masalah (menghindari masalah), bagaimana jika terjadi masalah (mengatasi masalah), dan sebagainya. Jadi, code of conduct juga bertujuan untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum (preventif).

Pada umumnya, sebuah institusi ataupun komunitas membuat sebuah code of conduct disebabkan adanya masalah-masalah yang pernah terjadi di institusi ataupun komunitas tersebut. Satu atau beberapa masalah yang sempat muncul tentu akan menjadi perhatian yang sangat menguras tenaga, waktu pikiran maupun biaya pada saat mengatasinya. Hal ini disebabkan tidak adanya aturan yang dapat dijadikan sebagai pedoman bersama.

Dalam kerangka tersebut, dibutuhkan semacam perangkat aturan bersama untuk mencegah agar segala masalah serupa tidak muncul kembali. Materi atau kontens dalam code of conduct pada umumnya memang bersifat universal (tidak teknis), sehingga tidak membutuhkan banyak penjelasan, mudah dipahami dan dapat dipajang di beberapa tempat untuk lebih mengingatkan pihak-pihak yang terlibat.
Jika memang code of conduct tersebut merupakan produk bersama, maka subjek dan obyek terhadap code of conduct adalah keseluruhan. Artinya, code of conduct harus disepakati bersama dan juga ditujukan kepada seluruh pihak. Tidak boleh terjadi “bias” ataupun diskriminasi. Semua pihak akan mendapat reward jika melaksanakannya (jika memang ada reward), dan akan mendapat sanksi jika melanggarnya.
Dalam dunia pendidikan kerap kali muncul masalah di mana guru yang mencoba mendisiplinkan anak ternyata justru diadukan orangtua anak kepada pihak polisi. Sementara kemendikbud menyediakan nomer khusus untuk pengaduan siswa dan orangtua atau pihak-pihak yang merasa menjadi korban bullying di sekolah. Tidak sedikit guru dan masyarakat yang protes dan dianggap “melecehkan” tugas guru dan sekolah dalam mendidik.

Masyarakat kemudian menganggap siswa “cengeng” dan orangtua yang tidak bisa mendidik dan hanya bisa melapor ke polisi. Dan kemudian menyebabkan si anak tidak diterima di sekolah manapun (hal ini sesungguhnya sudah melanggar hak setiap warga negara untuk mendapat pendidikan di sekolah yang dijamin konstitusi). Namun masyarakat justru gembira, “Itulah akibatnya kalau siswa cengeng, manja dan pengadu!”

Bagi saya sederhana saja, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik sepanjang kita tahu apa yang kita lakukan. Dan setiap peristiwa merupakan sebuah pembelajaran agar ke depan bisa lebih baik lagi. Mungkin sudah perlu dipikirkan bagaimana ke depan setiap sekolah membuat code of conduct. Sepanjang itu menjadi kesepakatan dan komitmen bersama.

Soal metode perumusannya bisa bermacam-macam. Ada yang betul-betul dilakukan secara langsung, dengan cara mengumpulkan seluruh wali/orangtua siswa, guru dan siswa sendiri. Sebutkan hal-hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan di sekolah dan bagaimana jalan penyelesaiannya jika ada masalah (dapat disampaikan langsung/lisan ataupun melalui tulisan). Kumpulkan seluruh pendapat lalu sederhanakan hingga menjadi beberapa poin saja (hal paling penting).

Ada juga dengan model tidak langsung. Pihak sekolah sudah terlebih dahulu membuat semacam draft code of conduct dan kemudian setiap siswa dan orangtua berkewajiban mengetahui, membaca, memahami dan kemudian memberi kesepakatan. Apabila ada yang tidak setuju atau perlu dikoreksi disebut feedback. Kesepakatan tersebut kemudian secara lembaran dapat dibagikan dan dimiliki oleh masing-masing siswa dan orangtua, serta juga dapat dibuat dalam bentuk spanduk/banner yang dipasang di dinding sekolah.

Berikut contoh code of conduct di sekolah :
1.     Saling menghormati dan menghargai: mendengarkan pendapat orang lain dan membiarkan orang menyampaikan pendapatnya; mau berbagi kepada orang yang tidak punya; berperilaku sopan dan santun; menghindari jalan kekerasan dan mengutamakan musyawarah; memberi senyum, sapa dan salam; menyambut setiap tamu yang datang dengan penuh keceriaan.

2.     Saling menjaga dan melindungi: mengajak bermain dan belajar bersama, bekerjasama dan gotongroyong; membantu orang yang tidak bisa mengerjakan sendiri; menghindari dan meniadakan ancaman, pemaksaan fisik, ucapan yang menyakitkan, ataupun gerakan (gestur) dan simbol-simbol yang menunjukkan pelecehan.  

3.     Bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan: mematuhi segala peraturan sekolah; berkata jujur; datang tepat waktu; sholat tepat waktu; turut menjaga ketertiban kelas; disiplin dalam melaksanakan tugas sekolah (mengerjakan pekerjaan rumah, membawa buku pelajaran, mengenakan atribut seragam); menjaga dan merawat fasilitas sekolah.

4.     Menjaga kebersihan diri dan lingkungan: membuang sampah pada tempatnya; cuci tangan sebelum makan; menyikat gigi atau berkumur sesudah makan; membersihkan kelas, merawat dan menyirami tanaman; menjaga kebersihan seragam; berpenampilan rapi dan bersih, memperingatkan untuk mematikan jika ada yang merokok;

(Pedoman perilaku ini diberlakukan bagi seluruh warga sekolah, orangtua siswa, tamu dan masyarakat di lingkungan sekolah. Bagi siswa yang melaksanakan akan mendapat reward dan bagi siapa saja yang melanggar akan mendapatkan sanksi baik berupa teguran langsung, tidak langsung maupun hukuman sosial yang sudah ditentukan). 

Setiap sekolah di setiap daerah akan memiliki standar dalam menentukan segala aturan, penghargaan (reward) maupun hukuman (punisment). Biasanya disesuaikan dengan adat, budaya, kebiasaan bahkan peraturan di atasnya yang bersifat mengikat. Namun setidaknya, dengan adanya code of conduct semacam ini maka interaksi (hubungan) antara sekolah dengan orangtua dapat terbangun kondusif dan bisa saling memahami tupoksinya.


Wednesday, 11 December 2019

KADRUN MAKSA BANSER || WANTED!! LAKI LAKI BERJENGJOT PAKAI TOPI DALAM VIDEO






TANGKAP BAJINGAN YANG PAKAI TOPI MENYEBUTKAN ORANG LAIN MONYET.



BAPAK KAU BANGSAT....


MEMANG INI NEGARA BAPAK KAU...
11 December 2019




Horeeeee, ........ waktu tertuju di pukul 6:07am WIB sekarang ini semua pekerjaan ku sudah selesai. Jadi mulai hari ini saya bisa hidup normal.

Habis tulis blog ini mau ke dapur makan dan habis itu mau tidur sebentar. Dan entah kenapa tadi diantara 1,5 jam lalu (kisaran itu) terasa ingin makan nenas. Maka setelah habis tidur sebentar saya mau pergi beli nenas dan makan nenas.

Yang paling membuat ku gembira adalah semua pekerjaan ku sudah selesai dan setelah itu saya bisa hidup normal.

Dan setelah itu saya mau kumpulkan semua kekuatan (Max Power) ditujukan pada Sukses Medan.

Monday, 9 December 2019

9 December 2019




Bacaan ku hari ini langsung di display computer (tinta printer habis belum bisa di print out).





Magnesium Karbonat


Sebagai penyuka olahraga ekstrim terutama panjat tebing, tentunya kamu sering juga menonton siaran ‘Channel Extream Sport’ atau paling tidak video Youtube mengenai panjat tebing. Saat menonton video mengenai panjat tebing kamu pastinya pernah melihat para pemanjat profesional membawa sebuah wadah dan disimpan dipinggang bagian agak kebelakang.

Wadah tersebut berisikan benda mirip tepung, para pemanjat biasanya menggunakan tepung agar tidak licin saat menggunakan tangannya menggenggem bebatuan yang menempel di tebing. Namun itu ternyata bukanlah sebuah tepung terigu biasa atau sejenisnya, melainkan magnesium karbonat.

Benda putih bernama MgCO3 dalam bahasa ilmiahnya ini merupakan garam anorganik yang berbentuk kristal putih. Memang secara fisiknya terlihat seperti tepung padahal merupakan benda yang sangat berbeda.

Membicara soal kegiatan panjat tebing , climbing dan sejenisnya termasuk kedalam ‘gymnastic’ yang merupakan olahraga yang sangat menantang dan sudah memiliki komunitas tersendiri. Banyak orang yang mencobanya dengan bantuan berbagai peralatan, tetapi ada juga orang yang sengaja melakukan panjat tebing dengan minim peralatan sehingga menjadikan panjat tebing sebagai olahraga ekstrim.
Magnesium karbonat sebenarnya memiliki banyak kegunaan. Selain fungsi sebagai pengering tangan dari keringat saat memanjat tebing, 

MgCO3 berfungsi juga sebagai pemutihkan tengkorak atau tulang. Benda ini juga bisa digunakan sebagai aditif makanan, tentunya dengan takaran dan ketentuan tertentu.


BACA JUGA: Gara-gara Aspal, Benarkah Yunani Nggak Ramah Bagi Penggila Gowes?
Efek Kesehatan Magnesium


Magnesium menurut penelitian di katakan tidak menimbulkan efek samping apapun, baik itu efek karsinogenik, mutagenik, dan teratogenik. Hanya saja, kalau terkena paparan uap magnesium oksida langsung hasil pembakaran, pengelasan, atau pencairan logam dapat menyebabkan beberapa keluhan semisal menggigil, mual, muntah, demam, & nyeri otot. Sebuah ledakan juga bisa terjadi jika bubuk atau butiran magnesium tercampur dengan udara.

Tubuh manusia pada dasarnya, membutuhkan magnesium setidaknya 200 mg per hari. Hanya saja, mengkonsumsi suplemen magnesium secara berlebih bisa memicu kelemahan otot, lesu, dan kebingungan.
Dampak Lingkungan Magnesium Hanya sedikit informasi mengenai dampak dari uap magnesium oksida terhadap lingkungan.

Dampak pada hewan mamalia lain ketika menghirup magnesium oksida mungkin efeknya sama seperti pada manusia. Manusia mampu mengasup antara 250 sampai 350 mg per hari magnesium dan mendapatkan kebutuhan magnesium dari makanan dan mampu membuang kelebihannya. Bubuk magnesium diduga tidak berbahaya bagi lingkungan.

9 December 2019




Bacaan ku pagi ini langsung di display computer.



Pengertian dan Kelebihan Kain RIPSTOP

Mungkin anda pernah mendengar istilah kain Ripstop? Trus apasih kain RIPSTOP itu?
Berikut ini sedikit ulasan dari kain RIPSTOP, Kain Ripstop merupakan kain tenun yang sering terbuat dari benang nilon, dalam penenunan menggunakan teknik memperkuat khusus yang membuat mereka tahan terhadap robek dan merobek. Kain ripstop tipis dan ringan memiliki struktur 3-dimensi karena benang tebal yang terjalin dengan kain tipis.
Kain jenis Ripstop ini memiliki kelebihan dalam rasio kekuatan-to-weight yang menguntungkan dan bahwa air tidak dapat dengan mudah menyebar. Kain yang digunakan untuk membuat ripstop termasuk kapas, sutra, poliester, dan polypropylene, nilon dengan konten terbatas pada benang crosshatched yang membuatnya tahan air.
kain RIPSTOP banyak digunakan untuk pembuatan seragam tentara, ransel, tas koper hal ini karena kain ripstop tidak mudah robek dan lebih tahan air.  Untuk jenis RIPSTOP yang tipis digunakan untuk layar kapal, balon udara, layang-layang, parasut, peralatan berkemah seperti tenda dan kantong tidur ringan, swags, bendera, spanduk dll
9 December 2019




Bacaan ku di tengah malam sebelum tidur. Di baca langsung lewat display computer.



Peter F.Drucker : Adopsilah manajemen militer dan praktekkanlah di manajemen bisnis. 

Siapa yang tidak kenal dengan Peter F. Drucker, terutama para mahasiswa dan sarjana di bidang manajemen. Peter Drucker adalah Bapak Manajemen Modern, sehingga dia diberi penghargaan dimana namanya di cantumkan pada Peter Drucker and Matoshi Ito of School Management di Claremont Graduate University. Peter F. Drucker menganggap bahwa para pebisnis yang ada di dunia ini, harus mempelajari manajemen militer untuk dapat sukses dalam bisnis dan perkembangan perusahaan. Adapun tiga bidang yang harus dipelajari oleh para pebisnis dan manajemen untuk mengadopsi manajemen militer adalah :
1.      Pelatihan dengan sistem militer, dimana Peter Drucker sangat menghormati filosofi dalam pelatihan militer dengan asumsi pertama adalah semakin giat kita berlatih, semakin mudah melakukan tindakan militer yang sesungguhnya, maka semakin baik kinerja kita. Kemudian asumsi kedua adalah serdadu berpangkat rendah pun, mampu memiliki kemampuan meraih level tanggung jawab dan komando tertinggi. Hal ini teringat dengan pepatah," Dalam setiap ransel prajurit, terdapat tongkat marsekal." Dalam kemiliteran, keharusan setiap prajurit bisa membawa tongkat kepemimpinan, terutama pada saat berperang, jadi siapa saja diharuskan bisa untuk memimpin. Napoleon mengambil banyak Jendral dan Marsekal dari prajurit-prajurit yang di naikkan pangkatnya, karena mereka sudah mengetahui dan berpengalaman dalam situasi kemiliteran. Jadi, dalam kemiliteran semakin giat kita berlatih, maka semakin baik kinerja kita, maka semakin efektif, efisien dan berhasil kita.
2.      Penerapan sistem promosi, Sistem promosi di kalangan militer Amerika, menurut Peter Drucker seperti rantai yang sambung menyambung, dimana promosi didasarkan dari pengalaman dan kepantasan, seperti dimulai dari pangkat terendah ( Bintara Yunior ) sampai ke pangkat Mayor Jendral dan ada Dewan Promosi yang bertemu untuk menetapkan siapa yang akan di promosikan. Dewan Promosi ini menentukan siapa yang memiliki kualitas terbaik, untuk memperoleh kenaikan posisi, jabatan atau pangkat. Alat utama untuk laporan promosi adalah laporan evaluasi yang di capai setiap tahun, meski tiap pangkat berbeda-beda laporan evaluasinya, biasanya evaluasi menilai sejumlah kriteria tertentu yang secara umum seperti cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, memotivasi, perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengembangan pribadi dan kelompok/team, serta pembelajaran.
3.      Kepemimpinan, dimana delapan aturan kepemimpinan universal menurut Peter F. Drucker, yaitu : Utamakan integritas, kenali perangkat kita, ungkapkan harapan, tunjukkan komitmen yang luar biasa, harapkan selalu hasil yang positif, urus dan perhatikan bawahan atau anak buah, utmakan tugas diatas urusan pribadi dan selalu berada di depan.
Peter F. Drucker percaya bahwa para pebisnis dan perusahaan harus melihat dan mempraktekkan apa yang telah dilakukan oleh militer Amerika Serikat, untuk  memimpin perusahaan. Adopsilah sistem militer untuk meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan perusahaan.


Saturday, 7 December 2019

7 December 2019




Di tanggal 4 October 2019 saya ke Medan Meneruskan Perjuangan Ke Medan 03. Dan sekalian :

1. Naik Ke Gunung Sibayak,

2. Masuk Ke Dalam Goa Sibolangit dan Ke Jembatan Panjang di Desa Durin Serugun,

3. Danau Lau Kawar dan Naik Ke Gunung (Deleng) Lancuk dan Ke Pasar Buah Brastagi.


https://odessacommunity.blogspot.com/2018/03/blog-post_30.html