Sunday, 7 June 2020

7 June 2020, Sunday




Bacaan ku di hari ini dari sambungan kemarin 6 June 2020, Saturday




......... sambungan kemarin




TEKNIK DALAM PANJAT TEBING





X. PERALATAN DASAR DALAM PANJAT TEBING


Untuk mengetahui peralatan dasar dalam panjat tebing sangatlah banyak jenisnya, tergantung jenis pemanjatan yang dilakukan, peralatan untuk trad climbing misalnya akan sedikit berbeda dengan ice climbing, begitu juga peralatan untuk big wall climbing yang sangat banyak akan sangat tertolak belakang dengan beralatan yang biasa dipakai untuk bouldering. Oleh karena itu untuk mempermudah pemahaman kali ini penulis hanya akan membahas peralatan yang biasa dipakai untuk sport climbing saja dan hanya yang paling sering dipakai saja akan tetapi peralatan ini secara umum hampir semua dipakai dibeberapa jenis pemanjatan lainnya.




TALI KERNMANTLE


Tali kernmantel atau biasa disebut tali karmantel adalah tali yang paling populer dipakai saat ini dalam olahraga panjat tebing. Kernmantle berarti tali yang terdiri dari inti (kern) yang diselimuti (mantle)  sebagai pelindung. Ada 2 (dua) jenis tali kernmantle yang biasa digunakan yaitu statis dan dinamis keduanya berbeda dalam hal persentase kelenturannya akan tetapi sangat berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan prilaku dalam perawatannya. Untuk lebih dalam masalah tali tersebut akan penulis bahas dilain kesempatan.

Tali yang sering dipakai saat memanjat adalah dari jenis dinamis karena memiliki tingkat kelenturan atau bisa merenggang sampai 30% dari total panjang tali dan ini sangat berguna agar tubuh tidak sakit saat terjatuh. Sementara tali jenis statis adalah tali kaku yang hanya bisa merenggang sampai 5% saja, oleh karena itu sangat efektif digunakan untuk Single Rope Technic (SRT) tali statis ini menjadi tali wajib bagi para pekerja diketinggian (rope access) dan juga vertical rescue. Kedua jenis tali ini memiliki panjang yang bervariasi mulai dari 50 meter, 60 meter, 75 meter juga 80 meter, tergantung keperluan yang pasti semakin panjang tali akan semakin sulit untuk dikelola. Diameter talipun berbeda-beda mulai dari 9.1mm, 10.2mm, 10.5mm, 11mm dan masih banyak lagi.




HARNESS


Harness adalah penghubung antara tubuh dengan tali, kenyamanan saat digunakan sangat penting untuk diperhatikan karena salah satu factor yang buat tubuh tidak merasa sakit saat terjatuh adalah dengan memilih harness yang sesuai, ukuran harness sama dengan memilih pakayan mulai dari ukuran S, M, L, XL. Harness ada dua jenis yaitu seat harnees dan full body harness. Untuk panjat tebing jenis seat harness paling banyak digunakan karena lebih sederhana sehingga tidak terlalu menggangu gerak tubuh. Sedangkan untuk Single Rope Technic (SRT) ataupun Vertical Rescue jenis Full Body Harness yang banyak digunakan.



SEPATU


Kalau memanjat dengan kaki telanjang kemampuan penggunaan kaki hanya 50% mungkin kurang maka dengan menggunakan sepatu panjat memampuan kaki akan menjadi 100%, jadi jelas disini fungsi utama sepatu panjat bukan untuk melindungi kaki tetapi untuk memaksimalkan fungsi kaki setelah itu barulah untuk melindungi kaki. Tanpa sepatu kita mungkin hanya bisa menggunakan tapak serta jempol kaki saja saat memanjat itupun hanya untuk pijakan yang berukuran besar saja. Kita akan kesulitan untuk menggunakan bagian kaki yang lain. 

Dengan memakai sepatu kita akan bisa menggunakan hampir seluruh bagian kaki, baik itu menggunakan sisi dalam kaki (inside edge) atau sisi luar (outside edge), heelhook ataupun toehook dan lain sebagainya. Oleh karena itu biasakan menggunakan sepatu dalam memanjat, pemilihan sepatu yang nyaman sangat berpengaruh terhadap proses memanjat. Sepatu dibuat untuk mengurangi slip pada kaki, perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya adalah pada material sol sepatunya yang dirancang khusus. Katanya merek nomor satu untuk sepatu panjat saat ini adalah la sprotiva, ini bisa jadi kalau dilihat dari banyaknya pemanjat professional tingkat dunia yang memakai merek ini.

Saturday, 6 June 2020

6 June 2020, Saturday





Bacaan ku di hari ini dari sambungan kemarin 5 June 2020, Friday




......... sambungan kemarin




TEKNIK DALAM PANJAT TEBING






8.3 MELAKUKAN PENDINGINAN


Setelah melakukan latihan pemanjatan maka lakukanlah pendinginan, pendinginan pasca latihan berfungsi untuk mengembalikan fungsi otot kembali ke keadaan normal dan juga berfungi untuk membakar asam laktat yang melekat di setiap tendon-tendon, asam laktat ini lah yang mengakibatkan munculnya rasa nyeri pada otot keesokan harinya. Lakukan pendinginan selama 5 menit sampai 15 menit selesai latihan.




IX. TEKNIK DASAR UMUM DALAM OLAHRAGA PANJAT TEBING


Teknik dasar yang umum dalam panjat tebing disini yaitu hanya sebatas teknik gerakan dalam memanjat, hal ini harus dipahami ketika hendak memanjat tujuannya adalah agar proses memanjat menjadi lebih efektif jadi tidak ada energy yang terbuang percuma. Walaupun dalam prakteknya tidak semua ketentuan-ketentuan dasar ini akan selalu dijumpai karena perbedaan jalur dan karakter setiap tebing akan tetapi prinsip dasar ini akan sangat membantu. Prinsip dasar yang harus diketahui adalah :


- Pertahankan 3 (tiga) titik kontak, saat memanjat ada 4 (empat) titik kontak yaitu kedua tangan dan kaki dan dalam proses memanjat sangat penting untuk tetap mempertahankan setidaknya 3 titik kontak, yaitu 1 (satu) kontak mencari pegangan atau pijakan sementara 3 (tiga) lainnya tetap menempel pada tebing. Cara seperti ini sangat membantu agar otot tidak mudah lelah ditambah lagi dengan mendapatkan titik keseimbangan yang sempurna.


- Saat menggenggam pegangan pada tebing usahakan posisi tangan selalu lurus, gunakan jangkauan setinggi-tingginya dalam menggapai pegangan, ingat fungsi tangan agar kita tetap menempel bukan menarik pegangan yang menbuat siku menjadi bengkok karena hal ini akan membuat otot tangan cepat lemas. Setelah meraih pegangan segera jatuhkan badan dengan menekuk kedua lutut dengan demikian posisi tangan akan menjadi lurus. Dengan posisi ini kerja otot tangan akan berkurang karena dibantu oleh otot bahu dan dada.


- Memanjat menggunakan kaki bukan dengan tangan, ini prinsip dasar memanjat yang terkadang sering dilupakan oleh pemanjat terutama pemanjat pemula. Ibarat memanjat tangga vertical seperti tangga di tower telekomunikasi, kita menggunakan kaki untuk memanjat yaitu dengan meletakkan kaki di anak tangga lebih dahulu baru mendorongnya keatas dan selalu kaki yang pertama di gerakkan baru diikuti dengan perpindahan tangan, ini karena tangan hanya digunakan agar kita tetap menempel di tangga tersebut. jangan terbalik, bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk naik anak tangga tersebut menggunakan tarikan tangan sementara kaki hanya sekedar menempel tidak bekerja. begitu juga saat memanjat tebing gunakan kaki untuk menambah ketinggian bukan tangan, maksimalkan kerja kaki adalah cara paling baik dalam proses memanjat.

- Dalam penguasaan teknik memanjat, pengetahuan tentang medan pemanjatan sangatlah penting, mengetahui jenis batuan tebing akan sangat membantu menentukan teknik apa yang diperlukan untuk menyelesaikan jalur tersebut, juga kemampuan membaca jalurpun harus diasah terus menerus agar pemanjatan menjadi efesien. Prinsipnya 1 (satu), biarkan tebing yang mendikte kita untuk bergerak biarkan tebing yang mengarahkan kita agar harus melakukan ini dan itu, proses inilah yang membuat pemanjat lebih dekat dan bersahabat dengan alam. Oleh karena itu mengetahui nama-nama gerakan, pegangan, dan pijakan menjadi sangat perlu dengan demikian kita akan mengetahui setiap teknik yang akan digunakan untuk menyelesaikan pemanjatan tersebut. Lagipula dengan mengetahui nama-nama gerakan, pegangan dan pijakan dalam memanjat kita akan mudah untuk berkomunikasi dengan pemanjat lain tentang bagaimana menyelesaikan satu jalur panjat tertentu.

- Aba-aba dalam panjat tebing adalah cara seorang pemanjat berkomunikasi dengan rekan memanjatnya, bisa dengan belayer ataupun dengan memanjat lainnya. Hal ini penting agar tidak terjadi misskomunikasi saat proses memanjat, jangan biasakan berkomunikasi dengan cara sendiri yang hanya dimengerti oleh kalangan sendiri saja, akan tetapi gunakan bahasa yang telah disepakati dan telah digunakan oleh sesama pemanjat diseluruh dunia. 

Friday, 5 June 2020

5 June 2020, Friday





Bacaan ku di hari ini dari sambungan kemarin 4 June 2020, Thursday




......... sambungan kemarin





TEKNIK DALAM PANJAT TEBING




VIII. PERSIAPAN SEBELUM PANJAT TEBING



Sebaiknya sebelum memulai memanjat anda ditemani oleh seorang yang sudah cukup terlatih dibidang olahraga ini, hal ini karena olahraga panjat tebing baru berjalan kalau dilakukan setidaknya oleh dua orang, seorang bertindak sebagai pemanjat dan seorang lagi membelay, kecuali untuk bouldering dan itupun kalau anda sudah cukup mahir kalau belum sebaiknya juga ditemani oleh seorang patner yang sudah mahir, selain berfungsi untuk membackup saat anda terjatuh anda akan banyak belajar cara memanjat dari patner anda.

Untuk pemula ada baiknya melakukan pemanjatan di dinding panjat terlebih dahulu, ini sangat bermanfaat untuk melatih mental dan teknik, teknik disini bukan hanya kemampuan dalam menguasai gerakan tetapi juga kemampuan menggunakan peralatan panjat sesuai dengan prosedur selain itu juga untuk meminimalisir kecelakaan yang bisa saja terjadi, karena bagaimanapun terbentur di dinding papan atau fiber tidak secetar di tebing asli. Saat ini hampir semua dareah sudah ada tempat untuk memanjat baik itu papan panjat dari Pengurus Cabang Federesi Panjat Tebing Indonesia ataupun dari komunitas panjat tebing yang sudah mulai banyak di setiap daerah.

Jangan ragu untuk mulai bergabung dengan komunitas - komunitas panjat tebing ataupun organisasi panjat tebing seperti FPTI, mereka akan sangat terbuka untuk menerima setiap orang yang suka dengan olahraga ini. Bagi sebagian orang olahraga ini agak ‘seram’ kalau dilihat tetapi percayalah kalau sudah mencobanya anda malah ketagihan.

Beberapa persiapan atau prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan pemanjatan antara lain :




8.1 MELAKUKAN PEMANASAN (WARMING UP)



Tidak hanya dalam olahraga panjat tebing, pemanasan adalah hal wajib yang harus dilakukan sebelum kita memulai sebuah olahraga, apalagi untuk panjat memanjat yang membutuhkan kekuatan, kelenturan dan variasi gerakan yang sangat komplek. Lagipula manfaat dari melakukan pemanasan adalah agar tubuh tidak cedera saat latihan memanjat. Lakukan pemanasan dengan serius mulai dari kepala sampai kaki terutama di tempat-tempat yang renta terhadap cedera seperti leher dan sendi lainnya. Pemanasan bisa dilakukan selama 10 menit sampai 30 menit.





8.2 MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PERALATAN MEMANJAT



Melakukan pemeriksaan peralatan adalah hal wajib yang harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah memanjat, ini karena saat memanjat kita menggantungkan hidup pada peralatan tersebut, perhatikan apakah peralatan sudah sesuai dengan standar UIAA dengan kata lain semua peralatan harus berlisensi UIAA mulai dari harness, tali karnmantel dan lain sebagainya, perhatikan juga fisiknya karena sangat berbahaya untuk menggunakan peralatan yang sudah tidak layak pakai.

Perhatikan juga simpul-simpul yang digunakan haruslah sesuai standar karena kesalahan penggunaan simpul juga dapat berakibat fatal, penggunaan simpul tali yang benar selain membuat aman juga akan memperpanjang umur tali, oleh karena itu bagi pemanjat pemula sangat penting untuk selalu di bimbing oleh yang sudah mahir mengingat olahraga ini sangat beresiko.

Thursday, 4 June 2020

4 June 2020, Thursday




Bacaan ku di hari ini dari sambungan kemarin 3 June 2020, Wednesday.




......... sambungan kemarin




TEKNIK DALAM PANJAT TEBING





BLANK – ini adalah permukaan tebing yang tegak lurus membentuk sudut 90 derajat atau disebut juga vertical, biasanya ini adalah bentuk permukaan tebing yang paling luas daripada bentuk permukaan tebing yang lain.



OVER HANK – ini adalah bentuk permukaan tebing yang miring besar sudut kemiringannya antara 10 – 80 derajat, semakin kecil sudutnya tentu semakin besar usaha yang dibutuhkan untuk bisa melewatinya.



ROOF – roof atau atap, ini adalah bentuk permukaan tebing dengan sudut 0 – 180 derajat, bagian ini biasanya tidak terlalu panjang pada sebuah tebing, dan mungkin bagian tersulit karena pemanjat harus merangkak horizontal dengan posisi dinding diatas dan tubuh dibawah. Lagipula kalau harus melewati bentuk permukaan yang seperti ini disarankan jangan berlama-lama diarea tersebut karena sangat menguras tenaga.



TERAS – secara spesifikasi sama dengan roof,mempunyai sudut 0 – 180 derajat, hanya saja teras adalah kebalikan dari roof. Dalam pemanjatan multipicth, teras biasa dijadikan tempat memasang picth (station belay) untuk membelay pemanjat kedua.



TOP – bagian akhir dari sebuah tebing, tujuannya para pemanjat, walau sebenarnya top bagi pemanjat tidak selalu harus kepermukaan paling atas dari tebing, bisa saja top itu di runner terakhir yang terpasang.

Wednesday, 3 June 2020

3 June 2020, Wednesday




Bacaan ku di hari ini dari sambungan di tengah malam 3 June 2020, Wednesday.




......... sambungan




TEKNIK DALAM PANJAT TEBING





5.3 ETIKA DALAM PANJAT TEBING


Dalam setiap kegiatan atau olahraga pasti ada etika atau kode etik yang harus dipatuhi apalagi olahraga yang dilakukan di alam bebas, tujuannya adalah agar proses kegiatan berjalan dengan aman dan lancar juga meminimalisir kerusakan alam yang pada akhirnya asset alam tersebut akan selalu terjaga dengan baik. Begitu juga dengan olahraga panjat tebing, beberapa etika atau kode etik tersebut antara lain :

- Pemanjatan pertama bisa melakukan pembersihan membuka jalur akan tetapi harus meminimalisir kerusakan tanaman dan bebatuan asli.
- Dilarang merusak pegangan dan pijakan
- Meminimalisir penggunaan Piton. Bor digunakan hanya sebagai alternative terakhir, begitu juga penggunaan magnesium hanya pada saat dibutuhkan saja.




VI. ORGANISASI DALAM PANJAT TEBING

Seperti halnya olahraga bola kaki dengan badan organisasi tertingginya adalah FIFA begitu juga dalam olahraga panjat tebing juga memiliki organisasinya sendiri, berikut ini penulis akan membahas mulai dari organisasi tertinggi sampai organisasi panjat tebing yang ada di Indonesia.




6.1 UIAA (Union Internationale des Associations d'Alpinisme)


UIAA adalah badan dunia yang bertanggung jawab terhadap semua masalah meliputi study dan solusi tentang gunung. Terbentuk di Chamonix, Francis pada bulan agustus tahun 1932, pada saat itu ada 20 asosiasi gunung bertemu untuk kongres alpine. Salah satu tugasnya adalah melakukan licency untuk peralatan pendaki ataupun panjat tebing. Makanya untuk saat ini semua peralatan memanjat layak digunakan kalau sudah ada lisensi dari UIAA.




6.2 IFSC (International Federation of Sport Climbing)


IFSC atau dalam bahasa indonesianya Federasi Internasional Panjat Tebing adalah sebuah badan organiasi yang terbentuk pada tanggal 27 Januari 2007 yang merupakan kelanjutan dari rapat dewan untuk kompetisi panjat tebing dunia yang didirikan pada tahun 1997. IFSC adalah sebuah organisasi not profit non pemerintah, ini adalah badan resmi dunia untuk penyelenggaraan kompetisi memanjat tingkat olimpiade. Tujuan dari badan ini adalah untuk mengatur, mengarahkan, mempromosikan, dan melakukan pengembangan terus menerus terhadap olahraga panjat tebing dan kompetisinya di seluruh dunia.




6.3 FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia)



FPTI adalah badan tertinggi yang menaungi olahraga panjat tebing di indonesia, terbentuk tanggal 21 april 1998. Tujuan utama dari organisasi ini adalah melakukan pembinaan demi tercapainya prestasi dalam olahraga panjat tebing baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu FPTI juga bertujuan memupuk persaudaraan dan persahabatan antar bangsa. FPTI sendiri sudah menjadi anggota UIAA pada tahun 1992, dan dua tahun setelahnya baru menjadi anggota KONI yaitu tahun 1994, dan menjadi anggota IFSC pada tahun 2007. Sampai saat ini FPTI sudah memiliki 25 Pengurus Cabang (PENGCAB) mulai dari Aceh sampai Papua dan mungkin akan terus bertambah.




6.4 BSAPI (Badan Standarisasi Pemanjat Indonesia)


BSAPI adalah lembaga independen yang bertugas mengembangkan, memelihara, dan mengelola standar pemanjat indonesia. Fungsi dari BSAPI ini antara lain menerbitkan dan mengelola database untuk aktifitas, peralatan dan juga fasilitas olahraga panjat tebing di Indonesia. Dengan standard an sertifikasi dari BSAPI masyarakat pengguna mendapat kepastian hukum mengenai status pelaku aktifitas, fasilitas atau pembuat produk panjat tebing.




6.5 LPS (Lembaga Pelatihan dan Sertifikasi) Panjat Tebing Indonesia


LPS panjat tebing Indonesia adalah sebuah lembaga independen yang berdiri pada tanggal 28 Oktober 2010 dan menjadi sebuah lembaga dengan akte notaris yang dibuat tanggal 9 mei 2011. Tujuan utama dari lembaga ini adalah mengelola pelatihan dan sertifikasi panjat tebing di Indonesia. Disetiap propinsi ada pengurus tingkat kota ataupun kabupaten. LPS Panjat tebing Indonesia sudah mendapat akreditasi dari Lembaga Akreditasi Nasional Keolahragaan (LANKOR).




VII. BAGIAN - BAGIAN DARI PERMUKAAN TEBING

Dalam olahraga panjat tebing tentu yang menjadi media tempat memanjat adalah tebing kalau dinding namanya panjat dinding, seorang pemanjat yang baik tentu harus mengetahui seluk beluk tentang olahraga yang digemarinya, termasuk juga pengetahuan tentang media tebing itu sendiri. Ini penting untuk diketahui karena disitulah nanti tempat kita berpegang juga berpijak sewaktu memanjat. Sebuah tebing memiliki bagian-bagiannya sehingga membentuk tebing yang utuh mulai dari bagian bawah sampai atas, dibawah ini adalah bagian-bagian dari permukaan tebing yang harus diketahui :







3 June 2020, Wednesday




Bacaan ku di tengah malam ini dari sambungan 1 June 2020, Monday.




......... sambungan





TEKNIK DALAM PANJAT TEBING





V. DIFINISI MOTTO DAN ETIKA DALAM PANJAT TEBING



5.1 DIFINISI PANJAT TEBING



Panjat tebing adalah salah satu jenis kegiatan olahraga di alam bebas yang menitik beratkan pada kemampuan menyelesaikan setiap rute pada permukaan tebing. Panjat tebing tentu tidak bisa hanya dilakukan dengan berjalan kaki. Kemampuan membaca jalur, memiliki kekuatan, dayatahan dan kelenturan serta bisa bersahabat dengan setiap pegangan dan pijakan sangat dibutuhkan dalam olahraga yang satu ini, berbicara soal andrenaline sepertinya hampir semua olahraga yang berbasis alam bebas selalu dapat memicu andrenaline. Pada umumnya panjat tebing dilakukan di kontur bebatuan tebing yang keras dengan posisi permukaan tebing bervariasi mulai dari sudut 90 derajat, 45 derajat, sampai 180 derajat.

Pada perkembangannya panjat tebing saat ini bukan hanya sebatas olahraga alam, dilihat dari tujuannya panjat tebing terbagi beberapa macam, antara lain :

Panjat tebing untuk kepuasan pribadi - disini pelaku melakukan kegiatan panjat tebing murni untuk kepuasan pribadi atau hobby, membuat rekor pribadi, mengukur batas kemampuan diri sendiri dan berbagai motivasi lainnya.

Panjat tebing untuk mengejar prestasi - pemanjatan untuk tujuan prestasi umumnya dilakukan di dinding panjat membawa nama pribadi, club atau organisasi sampai negara dan dibina mulai dari usia anak-anak untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan mulai tingkat daerah sampai kejuaraan internasional. Di Indonesia badan yang membawahi olahraga ini adalah FPTI (Feredeasi Panjat Tebing Indonesia).

Panjat tebing sebagai mata pencaharian - pada tahap ini panjat tebing sudah sebagai kegiatan profesi untuk mencari nafkah, dengan kemampuan memanjat serta licenci yang dimiliki ia  bisa bekerja di berbagai bidang dengan medan vertical. contohnya  adalah orang-orang yang bekerja di ketinggian.




5.2 MOTTO PANJAT TEBING



Motto populer dalam olahraga panjat tebing adalah Otak, Otot, Nasib. Motto ini bisa diartikan sebagai berikut :



OTAK

Ini berarti seorang pamanjat tebing harus memiliki kemampuan khusus dan menguasai teknik-teknik pemanjatan seperti membaca jalur, teknik gerakan, pegangan serta pijakan yang baik juga bisa menggunakan peralatan memanjat dengan baik.



OTOT

Ini berarti seorang pemanjat selain harus memiliki kemampuan teknis juga harus memiliki kemampuan fisik yang baik. Seperti memiliki kekuatan, daya tahan dan kelenturan tubuh yang baik, tentunya ini tidak  bisa didapat secara instan, semua harus melalui proses latihan yang terus menerus.



NASIB

Setelah Otak dan Otot factor terakhir yang menentukan suksesnya sebuah pemanjatan adalah factor nasib atau factor keberuntungan, selalu berdoa sebelum memanjat dan selalu waspada adalah cara terbaik untuk mendapatkan hal tersebut.

Monday, 1 June 2020

1 June 2020, Monday




Bacaan ku hari ini dari sambungan kemarin 31 May 2020, Sunday.




......... sambungan kemarin




TEKNIK DALAM PANJAT TEBING





GRADE 5.7 dan 5.8 ini menunjukan tingkat kesulitan yang sangat mudah, dijalur pemanjatan masih banyak pegangan dan pijakan yang sangat banyak, berukuran besar mudah didapat dan sudut kemiringannyapun belum 90 derajat.

GRADE 5.9 ditingkat ini jalur pemanjatan sudah mulai sulit ini ditandai dengan jarak antara pegangan dan pijakan sudah mulai berjauhan walau demikian masih dalam jumlah yang banyak berukuran besar.

GRADE 5.10 pada tingkat ini jalur pemanjatan sudah lebih sulit karena komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi ada yang besar dan ada yang kecil dan jarak antar pegangan juga pijakan pun sudah mujlai berjauhan, terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki  jadi factor keseimbangan sangat berpengaruh ditingkat ini.

GRADE 5.11 dan 5.12 tingkat kesulitan semakin tinggi ini dikarenakan letak antara pegangan sudah mulai berjauhan kecil-kecil bahkan banyak yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja. Posisi kakipun sudah mulai melebar agar tetap bisa melakukan tumpuan untuk pijakan berikutnya. Factor keseimbangan tubuh sangat berpengaruh. Bentuk tebing pada lintasan pun sangat bervariasi antara tebing gantung dan atap (roof).

GRADE 5.13 dan 5.14 ini tingkat tersulit untuk saat ini, kondisi jalur hampir mulus seperti kaca, dibutuhkan teknik, kekuatan dan daya tahan yang sangat bagus untuk bisa menyelesaikan rute ini. Dimana tumpuan untuk pegangan dan pojakan sangat minim di tingkat ini. Tak jarang pemanjat hanya bertumpu pada satu kaki dan satu tangan. Teknik gesekan (friction) sudah sering dipakai bahkan fungsi kaki sesekali berubah menjadi tangan (hooking) ditingkat ini.

4.3 KELAS A

Sistem pada kelas ini menunjukan seorang pemanjat atau pendaki harus menggunakan alat, kelas ini dibagi menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu A1 sampai A5. Misalkan :

Pada rute pemanjatan di tebing dengan grade 5.5 tidak bisa dilewati tanpa bantuan alat A3, ini artinya tingkat kesulitan tebing tersebut menjadi 5.5 – A3

Masih ada beberapa pembagian kelas lagi dalam pengkategorian tingkat kesulitan dalam kegiatan mendaki/panjat tebing ini seperti Ewbank System, British Grading System, Brazilian Grade System, Alaska Grade System dan Alpine Grade System dan akan penulis bahas dilain kesempatan.